banner 970x250

Pengungsi Mandiri yang Enggan Dievakuasi: Potensi Buruk Penanganan Bila Erupsi Kembali Terjadi

NTT, MEDIAINDONESIANEWS.ID – Bencana Alam Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki yang terjadi pada 04 November 2024 baru-baru lalu, meninggalkan duka mendalam bagi mereka yang menjadi korban. Baik korban meninggal, luka berat maupun luka ringan. Belum lagi warga terdampak yang kehilangan rumah tempat tinggal, harta benda serta sumber pencaharian dalam keluarga.

Pemerintah melalui Badan Penanggulangan Bencana sejak awal kejadian, telah mengambil langkah evakuasi terhadap warga terdampak ke beberapa pos pengungsian. Namun proses evakuasi warga ke lokasi pengungsian masih  menghadapi kendala. Di antaranya adalah enggannya warga terdampak untuk dievakuasi ke pos pengungsian yang dikelola oleh pemerintah dan memilih untuk mendirikan tenda-tenda pengungsian mandiri . Alasan mereka beragam.

Jumlah total pengungsi per tanggal 17/11 telah mencapai 12.761 jiwa. Jumlah tersebut meliputi pengungsi yang telokalisir di pos pengungsi induk yang dikelola pemerintah melalui BNPB maupun pengungsi-pengungsi mandiri.

Dari hasil informasi yang dihimpun awak media, pengungsi mandiri yang sampai dengan saat ini bersikeras tidak mau dievakuasi dan bergabung ke pos pengungsian induk yang dikelola BNPB.

“Diantaranya seperti di daerah Kriang (daerah perbatasan Sikka dan dekat pos pengamatan Pulolera. Padahal, daerah-daerah tersebut termasuk dalam zona rawan. Salah satu alasan sebagian penduduk yang memilih mengungsi mandiri dan bertahan di daerah rawan tersebut dikarenakan tidak mau meninggalkan hewan ternak peliharaan mereka. Dan diperkirakan jumlah mereka mencapai ratusan jiwa.

Hal ini mestinya segera dicarikan solusi dan langkah taktis dari pemerintah melalui segenap elemen terkait yang terjun ke lokasi menangani bencana. Sebab “Sebagian di antaranya sudah terserang ISPA dan diare”, kata salah satu anggota SAR Hidayatullah, Safardi Husain, yang intens melakukan patroli dan melakukan evakuasi di awal kejadian bencana.

Sementara itu Muhammad Fajri Blualolong Koordinator PI (Pendaki Indonesia) Flores Timur yang terjun sebagai relawan rescue menuturkan bahwasanya untuk distribusi logistik dan kebutuh darurat mereka ke lokasi agak sulit dikarenakan relawan harus mengambil resiko yang cukup besar untuk mendistribusikan bantuan. “Kami sekali waktu melakukan patroli dan distribusi logistik, kena hujan pasir. Sudah begitu pasirnya juga masih angat pas dipegang. Jadi repot juga menghadapi warga yang keras kepala untuk dievakuasi.”

Bila kondisi ini terus dibiarkan dan bila sewaktu-waktu kembali terjadi erupsi dengan skala yang mendekati kejadian awal, maka akan semakin buruk penangananya. Apalagi status Gunung Lewotobi laki-laki masih pada level IV Awas. (AHM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 325x300

You cannot copy content of this page