MEDIAINDONESIANEWS.ID – Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Ambon, Lisa Wattimena, mengaku terharu setelah melihat secara langsung proses pengolahan sagu yang dilakukan para petani. Menurutnya, proses pengolahan bahan pangan lokal tersebut membutuhkan tenaga, ketekunan, dan kesabaran yang tidak sedikit.
Hal itu disampaikan Lisa saat melakukan peninjauan dan penilaian terhadap sejumlah kelompok Dasawisma dalam kegiatan Lomba Desa Pelaksana Terbaik 10 Program Pokok PKK Tingkat Provinsi Maluku yang berlangsung di Negeri Rutong, Selasa (3/11/2026).
Berdasarkan pantauan wartawan di lokasi, usai pembukaan kegiatan, Lisa Wattimena didampingi tim juri mengunjungi sejumlah kelompok Dasawisma yang telah menyiapkan berbagai produk dan hasil kegiatan untuk dinilai. Salah satunya adalah Kelompok Dasawisma Pengolahan Sagu.
Dalam kesempatan tersebut, Lisa tidak hanya melihat hasil olahan sagu yang dipamerkan, tetapi juga turut mempraktikkan secara langsung tahapan awal proses pengolahan sagu hingga menjadi bahan pangan yang siap diolah dan disajikan.
Dari proses tersebut, sagu dapat diolah menjadi berbagai makanan tradisional khas Maluku, seperti papeda panas, sagu lempeng, sinoli sagu, dan beragam jenis olahan lainnya.
Lisa mengungkapkan, setelah melihat dan mencoba secara langsung proses pengolahan sagu, dirinya menyadari bahwa pekerjaan tersebut tidak semudah yang dibayangkan.
“Ternyata proses pengolahan sagu hingga menjadi bahan yang siap disajikan tidak segampang yang kita bayangkan,” ungkap Lisa.
Ia juga menyampaikan rasa haru sekaligus apresiasi kepada para petani dan pekerja pengolahan sagu yang selama ini telah bekerja keras dengan penuh ketekunan dan kesabaran untuk menghasilkan salah satu pangan lokal kebanggaan masyarakat Maluku.
“Para petani dan pekerja pengolahan sagu memiliki pekerjaan yang sangat berat dan membutuhkan kesabaran. Saya merasa terharu melihat kerja keras mereka. Semoga para petani dan pekerja pengolahan sagu di Maluku, khususnya di Kota Ambon dan sekitarnya, senantiasa diberikan kekuatan dan kesehatan,” tuturnya.
Melalui kegiatan tersebut, keberadaan kelompok Dasawisma diharapkan tidak hanya menjadi wadah pemberdayaan keluarga, tetapi juga mampu mempertahankan potensi pangan lokal serta mendorong pengembangan berbagai produk olahan sagu yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat. (MIN-01)















