MEDIAINDONESIANEWS.ID — Lokasi kuliner ikan bakar dan colo-colo nasi kelapa yang belakangan viral di Kota Ambon ternyata berada di wilayah Negeri Laha, Kecamatan Teluk Ambon. Kawasan tersebut dikenal masyarakat dengan nama Laha Suang Amerika.
Kepala Pemerintah Negeri Laha (Raja Laha), Muhammad Yasir Mewar, mengatakan hal tersebut kepada wartawan, Jumat (18/9/2026). Menurutnya, nama Laha Suang Amerika memiliki sejarah tersendiri dan berkaitan dengan keberadaan jembatan di kawasan tersebut.
“Laha Suang itu Tanjung Laha. Tidang itu adalah jembatan, sedangkan Amerika adalah Jembatan Amerika,” kata Yasir.
Ia menjelaskan, kawasan tersebut kini menjadi salah satu lokasi yang ramai dikunjungi masyarakat, terutama untuk menikmati kuliner ikan bakar dan colo-colo nasi kelapa.
Pemerintah Negeri Laha, kata Yasir, tengah menyiapkan sejumlah fasilitas untuk mendukung pengembangan kawasan tersebut sebagai sentra kuliner sekaligus destinasi wisata. Dalam waktu dekat, pemerintah negeri berencana membangun gapura sebagai penanda kawasan.
“Insyaallah dalam satu atau dua minggu ini akan dibuat gapura,” ujarnya.
Yasir menegaskan, kawasan tersebut akan diprioritaskan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) asal Negeri Laha. Pemerintah negeri membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin berusaha di lokasi tersebut sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh warga.
“Di lokasi ini diutamakan untuk UMKM yang ada di Negeri Laha. Masyarakat bisa diberdayakan sehingga perputaran perekonomian di negeri ini meningkat,” katanya.
Menurut Yasir, jumlah pengunjung pada hari biasa dapat mencapai sekitar 100 hingga 200 orang. Sementara pada akhir pekan, Sabtu dan Minggu, serta hari libur, jumlah pengunjung dapat mencapai lebih dari 700 orang.
Ia menyebut daya tarik utama kawasan tersebut adalah kuliner ikan bakar yang dipadukan dengan colo-colo dan nasi kelapa. Ikan yang digunakan umumnya diperoleh dari nelayan dan masyarakat pesisir Teluk Ambon.
Aktivitas nelayan juga turut memengaruhi ketersediaan ikan untuk kebutuhan kuliner. Pada pagi hari, sejumlah nelayan biasanya kembali membawa hasil tangkapan sehingga kawasan tersebut mulai ramai.
Selain kuliner, pemerintah negeri juga berencana mengembangkan potensi wisata lain di kawasan Laha Suang Amerika. Di antaranya pengelolaan telaga dan kawasan hutan mangrove.
“Masih banyak yang harus kita benahi. Kita sudah punya perencanaan, pertama terkait pengelolaan telaga dan hutan mangrove supaya pengunjung lebih tertarik,” jelas Yasir.
Ia juga mengungkapkan bahwa pengembangan kawasan tersebut mendapat dukungan melalui dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari Pertamina. Sejumlah fasilitas, termasuk atap tempat makan, disebut dibangun melalui dukungan tersebut.
Selain itu, terdapat fasilitas pembakaran sampah yang mendapat dukungan dari salah satu lokasi penyelaman (diving spot) di kawasan tersebut.
Pemerintah Negeri Laha juga mendorong masyarakat yang memiliki modal untuk membuka usaha jasa pembakaran ikan. Menurut Yasir, peluang tersebut dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat seiring meningkatnya jumlah wisatawan.
Untuk menu ikan bakar dan nasi kelapa, harga yang ditawarkan saat ini sekitar Rp20 ribu per porsi. Pemerintah negeri juga berencana memasang papan informasi atau baliho mengenai harga dan jenis layanan agar pengunjung memperoleh informasi yang jelas.
Pengelolaan kawasan Laha Suang Amerika saat ini melibatkan unsur pemerintah negeri dan pemuda Negeri Laha. Ketua pengelola lokasi disebut Sulaiman Mewar, sementara pemuda negeri turut berperan dalam pengamanan dan pengelolaan aktivitas di kawasan tersebut.
Yasir berharap perkembangan kawasan kuliner tersebut dapat memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan pendapatan keluarga dan mendukung pendidikan anak-anak Negeri Laha.
“Harapan kami tempat ini bisa dipertahankan supaya ekonomi berjalan dan pendidikan anak-anak juga bisa berjalan,” katanya.
Ia berharap penguatan ekonomi masyarakat melalui pengembangan kawasan Laha Suang Amerika juga dapat membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga di Negeri Laha.
Terkait penyebutan “Amerika” pada nama kawasan tersebut, Yasir mengatakan istilah itu berkaitan dengan sejarah pembangunan jembatan di lokasi tersebut.
Menurut penuturan yang berkembang di masyarakat, pembangunan jembatan tersebut melibatkan pekerja asal Amerika Serikat. Karena itu, masyarakat kemudian mengenalnya sebagai Jembatan Amerika.
Yasir mengatakan pemerintah negeri berencana memperkuat informasi mengenai sejarah tersebut melalui papan informasi atau narasi sejarah di kawasan wisata, sehingga pengunjung tidak hanya menikmati kuliner, tetapi juga mengetahui asal-usul nama Laha Suang Amerika. (MIN-01)















