TERNATE, – Dalam era digital seperti sekarang, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Kita bisa berbagi cerita, berpendapat, atau bahkan berdebat dengan orang-orang dari seluruh dunia hanya dengan satu klik. Namun, di balik kemudahan ini, sering kali kita lupa akan pentingnya etika dalam berbicara. Menurut ajaran Islam, berbicara bukanlah hal sembarangan. Lidah kita bisa menjadi sumber pahala atau dosa yang besar. Mari kita bahas lebih dalam mengapa etika berbicara di media sosial sangat krusial, berdasarkan pandangan Islam. Salah satu pelanggaran etika berbicara yang sering terjadi di media sosial adalah cyber bullying.
Cyber bullying adalah tindakan menghina, merendahkan, mengejek, atau menyerang seseorang secara verbal melalui media digital, seperti komentar kasar, ujaran kebencian, atau penyebaran konten yang mempermalukan orang lain.
Contoh kasus : Seorang pelajar mengunggah foto dirinya di media sosial. Namun, di kolom komentar, beberapa orang menuliskan ejekan tentang fisik, cara berpakaian, atau latar belakang keluarganya. Bahkan ada yang menyebarkan foto tersebut ke grup lain disertai kata-kata hinaan. Akibatnya, korban merasa malu, tertekan, kehilangan kepercayaan diri, bahkan mengalami gangguan mental.
Dalam pandangan Islam, tindakan ini sangat bertentangan dengan ajaran akhlak mulia. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat (49:11):
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰۤى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّنْ نِّسَآءٍ عَسٰۤى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۚ وَلَا تَلْمِزُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَا بَزُوْا بِا لْاَ لْقَا بِ ۗ بِئْسَ الِا سْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِ يْمَا نِ ۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
Ayat ini menegaskan bahwa menghina atau merendahkan orang lain, baik secara langsung maupun melalui media sosial, adalah perbuatan tercela. Cyber bullying juga termasuk bentuk dzalim, karena menyakiti perasaan dan kehormatan orang lain.
Rasulullah SAW bersabda:
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ
“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya, tidak membiarkan (dalam kesusahan), dan tidak memahaminya.” (HR.Muslim)
Dengan demikian, cyber bullying di media sosial bukan hanya melanggar norma sosial, tetapi juga bernilai dosa dalam Islam, karena bertentangan dengan prinsip kasih sayang, penghormatan terhadap sesama, dan penjagaan lisan.
Contoh kasus ini menunjukkan bahwa etika berbicara di media sosial bukan hal sepele. Setiap komentar, emoji, atau unggahan bisa menjadi ladang pahala atau justru sumber dosa. Oleh karena itu, seorang Muslim dituntut untuk bijak, santun, dan bertanggung jawab dalam menggunakan media sosial.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa lisan merupakan anggota tubuh yang paling berbahaya, karena dari lisan dapat muncul dosa besar seperti ghibah, fitnah, dusta, dan penghinaan.
Menurut beliau, setiap perkataan akan dimintai pertanggungjawaban, baik diucapkan secara langsung maupun disampaikan melalui tulisan. Jika dikaitkan dengan media sosial, maka komentar, unggahan, dan pesan digital memiliki hukum yang sama dengan ucapan lisan. Oleh karena itu, perilaku seperti cyber bullying, hinaan, dan ujaran kebencian termasuk perbuatan tercela menurut Islam.
1. Dasar Etika Berbicara dalam Islam.
Islam menekankan pentingnya menjaga lisan karena kata-kata kita bisa membawa dampak yang luar biasa. Al-Quran dan Hadis Rasulullah SAW memberikan pedoman jelas tentang hal ini. Salah satu ayat yang paling relevan adalah QS. Al-Hujurat (49:12):
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ ۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًا ۗ اَ يُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ ۗ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّا بٌ رَّحِيْمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”
Ayat ini secara tegas melarang ghibah atau menggunjing, yang sering terjadi di media sosial melalui komentar atau postingan. Rasulullah SAW juga bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.”
Ini menunjukkan bahwa diam lebih baik dari pada berbicara yang tidak bermanfaat atau bahkan merugikan orang lain.
Etika berbicara dalam Islam mencakup beberapa prinsip utama:
• Kejujuran dan Kebenaran : Kita harus berbicara berdasarkan fakta, bukan rumor atau asumsi. Di media sosial, ini berarti menghindari penyebaran berita palsu (hoax) yang bisa menimbulkan
fitnah.
• Menghindari Fitnah : Fitnah adalah tuduhan palsu yang bisa merusak reputasi seseorang.
Islam melarang keras hal ini, seperti dalam QS. An-Nur (24:19):
اِنَّ الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ اَنْ تَشِيْعَ الْفَا حِشَةُ فِى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَهُمْ عَذَا بٌ اَلِيْمٌ ۙ فِى الدُّنْيَا وَا لْاٰ خِرَةِ ۗ وَا للّٰهُ يَعْلَمُ وَاَ نْـتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang sangat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.”
• Sopan Santun dan Kasih Sayang : Kata-kata kita harus penuh dengan rahmat, bukan kebencian.
Rasulullah SAW mengajarkan untuk selalu berbicara dengan lembut, bahkan saat marah.
2. Relevansi Etika Ini di Media Sosial.
Media sosial memperbesar dampak kata-kata kita. Sebuah postingan atau komentar bisa dilihat oleh ribuan orang dalam hitungan menit, dan efeknya bisa bertahan lama. Tanpa etika, kita mudah terjebak dalam perdebatan yang memanas, penyebaran kebencian, atau bahkan
cyberbullying. Menurut ajaran Islam, ini bukan hanya masalah sosial, tapi juga spiritual. Setiap
kata buruk yang kita ucapkan bisa menjadi dosa yang tercatat, seperti yang disebutkan dalam
hadis:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ،
وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ.
“Sesungguhnya seorang hamba akan mengatakan suatu perkataan yang diridhai Allah SWT.
Yang tidak ia duga bahwa perkataan itu akan sampai pada derajat itu, maka Allah akan meninggikan derajatnya karenanya hingga Hari Kiamat. Dan sesungguhnya seorang hamba akan mengatakan suatu perkataan yang dimurkai Allah, yang tidak ia duga bahwa perkataan itu akan sampai pada derajat itu, maka Allah akan menurunkan derajatnya karenanya ke dalam. Neraka Jahanam.” (HR. Bukhari dan Muslim):
Di dunia maya, etika ini membantu membangun komunitas yang lebih baik. Misalnya, saat berbagi pendapat tentang isu-isu sensitif seperti politik atau agama, kita harus menggunakan bahasa yang santun dan berdasarkan dalil, bukan emosi. Islam mengajarkan untuk selalu
memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya, seperti dalam hadis tentang larangan menyebarkan apa yang tidak diketahui kebenarannya.
3. Dampak Positif dan Cara Menerapkannya.
Menerapkan etika berbicara di media sosial tidak hanya menjaga diri kita dari dosa, tapi juga
membawa pahala. Orang yang bijak dalam berbicara akan dihormati dan menjadi teladan. Untuk menerapkannya:
• Pikir Dulu Sebelum Posting : Tanyakan pada diri sendiri, apakah kata-kata ini bermanfaat?
Apakah ini sesuai dengan ajaran Islam?
• Gunakan Fitur Privasi : Jika perlu, batasi audiens agar kata-kata kita tidak menimbulkan
masalah.
• Belajar dari Kesalahan : Jika sudah salah bicara, segera minta maaf dan bertaubat, karena
Allah Maha Pengampun.
Kesimpulannya bahwa etika berbicara di media sosial memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ajaran Islam. Media sosial hanyalah sarana, namun nilai baik atau buruknya sangat ditentukan oleh bagaimana seseorang menggunakannya. Setiap kata, komentar, maupun unggahan yang disampaikan di dunia digital pada hakikatnya memiliki hukum yang sama dengan ucapan lisan, sehingga akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Islam secara tegas melarang perilaku berbicara yang mengandung unsur penghinaan, ghibah, fitnah, dan ujaran kebencian, termasuk dalam bentuk cyber bullying. Tindakan tersebut tidak hanya merusak hubungan sosial, tetapi juga merupakan perbuatan zalim yang bertentangan dengan prinsip akhlak mulia, kasih sayang, dan persaudaraan dalam Islam. Al-Qur’an, hadis Nabi Muhammad SAW, serta pandangan para ulama seperti Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa menjaga lisan adalah bagian dari keimanan dan ketakwaan seseorang.
Oleh karena itu, seorang Muslim dituntut untuk senantiasa berhati-hati, bijak, dan santun dalam menggunakan media sosial. Dengan menerapkan etika berbicara yang sesuai dengan ajaran Islam seperti berkata jujur, menghindari prasangka, menyebarkan kebaikan, serta memilih diam ketika perkataan berpotensi menyakiti media sosial dapat menjadi sarana dakwah, mempererat ukhuwah, dan ladang pahala, bukan sebaliknya menjadi sumber dosa.















