AMBON — Bandar Udara Internasional Pattimura Ambon terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan dan kenyamanan pengguna jasa melalui kampanye “Budaya Rawat Fasilitas”. Kampanye tersebut ditujukan kepada seluruh pengguna jasa dan pekerja di lingkungan bandara sebagai upaya menciptakan fasilitas yang bersih, tertata, nyaman, dan ramah bagi semua.
Kampanye ini juga menjadi bagian dari upaya membangun rasa memiliki dan kebanggaan bersama terhadap Bandara Pattimura sebagai salah satu pintu gerbang utama Provinsi Maluku.
Imbauan tersebut disampaikan menyusul adanya dugaan pemborosan air, pembuangan sampah tidak pada tempatnya, serta hilangnya sejumlah fasilitas sanitasi di beberapa titik area toilet kargo.
Manajemen Bandara Pattimura menegaskan bahwa menjaga kenyamanan terminal dan area operasional merupakan tanggung jawab bersama. Khusus di area kargo dan wilayah airside, seluruh mitra kerja diimbau mematuhi sejumlah ketentuan dalam menjaga fasilitas bandara.
Pertama, menghemat energi dan air dengan memastikan keran ditutup sempurna setelah digunakan sehingga tidak terjadi pemborosan air bersih.
Kedua, menjaga inventaris dengan tidak melepas, merusak, atau memindahkan aset fasilitas, seperti keran air, tempat sampah, dan fasilitas lainnya dari lokasi yang telah ditentukan.
Ketiga, mencegah kerusakan fasilitas dan lingkungan dengan menggunakan tisu secukupnya serta membuangnya ke tempat sampah. Langkah tersebut penting untuk mencegah terjadinya penyumbatan pada wastafel maupun kloset.
General Manager Bandar Udara Internasional Pattimura Ambon, Johan Seno Acton, mengatakan bahwa bandara merupakan rumah bersama sehingga setiap pihak memiliki tanggung jawab untuk menjaga fasilitas yang tersedia.
“Bandara adalah rumah bersama. Dengan merawat fasilitas seperti toilet dan area publik lainnya, kita turut menjaga kenyamanan perjalanan setiap orang,” ujar Johan.
Menurutnya, kebiasaan sederhana seperti mematikan keran air, menjaga aset tetap pada tempatnya, dan membuang tisu ke tempat sampah merupakan bentuk kedisiplinan sekaligus cerminan profesionalisme seluruh pihak yang berada di lingkungan bandara.
“Kami percaya bahwa kedisiplinan kecil seperti mematikan keran air, menjaga aset tetap di tempatnya, dan membuang tisu pada tempatnya adalah cerminan dari profesionalisme kita bersama,” katanya.
Johan mengajak seluruh pengguna jasa, pekerja, serta mitra kerja untuk bersama-sama menjaga kebersihan dan fasilitas Bandara Pattimura agar tetap nyaman dan memenuhi standar pelayanan.
“Mari jadikan bandara kita tempat yang nyaman, bersih, dan berstandar internasional, bukan hanya untuk tamu dan penumpang, tetapi juga untuk kenyamanan kita yang bekerja di dalamnya setiap hari,” ujarnya.
Manajemen Bandara Internasional Pattimura meyakini bahwa layanan prima tidak hanya ditentukan oleh kualitas pelayanan, tetapi juga oleh lingkungan yang terawat. Karena itu, sinergi dan kesadaran kolektif seluruh pihak diharapkan dapat menjaga kebersihan, keamanan, serta keandalan fasilitas bandara.
Dengan kampanye “Budaya Rawat Fasilitas”, Bandara Pattimura menargetkan terciptanya ekosistem bandara yang bersih, indah, nyaman, dan membanggakan sebagai pintu gerbang Maluku bagi masyarakat maupun para pengguna jasa. (MIN-01)















