banner 970x250

BPS Bursel Gelar Ekspose Indikator Makro Sosial Ekonomi dan Sosialisasi Sensus Ekonomi 2026

MEDIAINDONESIANEWS.ID Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Buru Selatan menggelar Ekspose Indikator Makro Sosial Ekonomi sekaligus Sosialisasi Sensus Ekonomi 2026, pada Selasa (2/12/2025), di Aula Kantor Bupati Buru Selatan. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Gerson Eliaser Selsily.

Kepala BPS Buru Selatan, Herthy Diana Soumokil, dalam paparannya menegaskan bahwa pengukuran kemiskinan tidak hanya dilihat dari sisi moneter, tetapi juga melalui pendekatan kemiskinan multidimensi yang menilai kualitas hidup secara menyeluruh.

“Kalau kemiskinan moneter, kita melihat isi dompetnya—berapa pengeluarannya. Tetapi kemiskinan multidimensi melihat seluruh aspek hidup: pendidikan, kesehatan, perumahan, sanitasi, hingga kepemilikan aset,” jelas Soumokil.

Ia mencontohkan adanya rumah tangga yang memiliki motor dan rumah layak namun pengeluarannya rendah sehingga sulit memenuhi kebutuhan pangan. Di sisi lain, ada yang memiliki pengeluaran tinggi tetapi tinggal di rumah tidak layak dan tanpa sanitasi memadai. Kelompok terakhir dikategorikan sebagai rentan miskin.

BPS mencatat penurunan angka kemiskinan Buru Selatan pada 2016–2020, kemudian melonjak menjadi 15,8% pada 2021 akibat pandemi. Setelah turun pada 2022, angka kemiskinan kembali naik pada 2023 dipicu kenaikan harga BBM dan harga beras yang saat itu mencapai Rp20.000 per kilogram.

Pada 2025, angka kemiskinan berhasil ditekan menjadi 14,84%, mendekati target RPJMD 2025 sebesar 14,89%.

“Artinya dari 100 orang di Buru Selatan, masih ada sekitar 14 yang tergolong miskin. Ini menunjukkan masih ada PR besar yang perlu kita selesaikan bersama,” ujar Soumokil.

Penurunan tersebut didorong oleh program intervensi pemerintah seperti PKH, BPNT, serta meningkatnya harga komoditas unggulan masyarakat seperti kelapa dan kopra.

BPS turut memaparkan 10 komoditas makanan dengan andil terbesar terhadap pengeluaran rumah tangga di Buru Selatan. Urutan tertinggi adalah:
1. Beras
2. Ikan segar
3. Roti tawar/roti manis
4. Minyak goreng
5. Makanan jadi
6. Bawang merah dan putih
7. Gula pasir
8. Telur ayam
9. Cabai

Sementara komoditas non-makanan terbesar antara lain perumahan, asuransi kesehatan, bensin, biaya sekolah, listrik, dan internet. Soumokil menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga karena kelompok rentan miskin sangat sensitif terhadap gejolak harga.

BPS mencatat indeks gini 2024 berada pada angka 0,225, turun 0,051 poin dibandingkan tahun sebelumnya sehingga menunjukkan ketimpangan pengeluaran semakin mengecil. Namun tingkat pengangguran terbuka justru naik menjadi 1,35% pada 2024.

Sebagian besar penduduk bekerja sebagai pekerja keluarga atau tidak dibayar, sehingga kualitas pekerjaan masih menjadi tantangan utama. Soumokil juga menyoroti kendala konektivitas internet dan transportasi yang berdampak langsung pada pelaksanaan pendataan.

“Masalah konektivitas ini punya dampak multiplier. Pendataan kami sering terhambat karena jaringan. Ini harus menjadi perhatian bersama agar program intervensi tepat sasaran,” tegasnya.

Dalam kegiatan tersebut, BPS juga memperkenalkan rencana pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 yang digelar pada Mei–Juli 2026. Soumokil meminta dukungan penuh pemerintah daerah agar pendataan berjalan lancar.

“Data sensus akan memetakan kondisi riil UMKM, sektor usaha potensial, jumlah usaha yang buka maupun tutup, hingga peluang investasi,” jelasnya.
“UMKM adalah motor ekonomi. Data yang akurat akan membantu perbankan dan pemerintah memberi stimulus yang tepat sasaran.”

BPS Buru Selatan memberikan sejumlah rekomendasi strategis:
1. Memperkuat program perlindungan sosial yang tepat sasaran
2. Menjaga stabilitas harga komoditas utama
3. Meningkatkan layanan dasar kesehatan, pendidikan, sanitasi, dan perumahan
4. Memperkuat konektivitas wilayah
5. Mendorong pengembangan UMKM dan pemerataan pertumbuhan ekonomi
6. Menciptakan lapangan kerja berkualitas

Menutup paparannya, Soumokil menegaskan pentingnya kebijakan pembangunan yang berbasis data.

“Di balik kebijakan yang tepat, selalu ada data yang akurat. Mari bergandengan tangan membangun Buru Selatan yang lebih maju,” pungkasnya. (MIN-05)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 325x300

You cannot copy content of this page